Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket Photobucket

Wednesday, June 10, 2009

Tampang Itu Perlu

Nasruddin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

“Tapi aku mengabdi kepada Allah saja,” kata Nasruddin.

“Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah,” kata istrinya.

Nasruddin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, “Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!” berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasruddin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasruddin. Tapi ia terkejut waktu Nasruddin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak “Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah.”

Sang tetangga menyerbu rumah Nasruddin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasruddin menjawab “Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah.”

Tetangganya marah. Ia mengajak Nasruddin menghadap hakim. Nasruddin berkelit, “Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin.”

Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.

Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasruddin segera mengadukan hal tersebut pada hakim.

“Bagaimana pembelaanmu?” tanya hakim pada Nasruddin.

“Tetangga saya ini gila, Tuan,” kata Nasruddin.

“Apa buktinya?” tanya hakim.

“Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi uang saya.”

Dengan kaget, sang tetangga berteriak, “Tetapi itu semua memang milikku!”

Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.

Bau Makanan

Suatu hari seorang miskin dan lapar mengambil roti kering dari sakunya dan memegangnya di atas sebuah ketel besar dari jendela sebuah restoran. Roti yang kering itu pun menjadi sedikit lunak dan dia mulai memakannya. Akan tetapi pemilik restoran itu menghentikannya dan dia menuntut biaya untuk uap makanan itu. Orang miskin itu tidak mempunyai uang dan kemudian dia memutuskan untuk pergi menemui hakim Nasruddin meminta keadilan.

Setelah hakim Nasruddin mendengarkan kasus itu, ia mengeluarkan beberapa keping uang emas dari sakunya dan menunjukkannya kepada pemilik restoran itu.

“Kemari sebentar”, kata Nasruddin pada pemilik restoran itu. Saat mendekat, Nasruddin memainkan koin itu sehingga gemerincing di dekat telinganya. “Nah, sekarang sudah dibayar”, kata Nasruddin.

“Apa-apan ini ?”, tanya pemilik restoran terkejut sambil bertanya.

“Keadilan !”, jawab Nasruddin “Suara gemerincing uang adalah adil sebagai kompensasi dari uap masakanmu

;;

Template by:
Free Blog Templates

Hi5 Emoticon